Epilog!!
Kadangkala dalam sebuah senyuman dalam hilai tawa terpalitnya seribu kedukaan mengisi rongga – rongga masa yang disisipnya terbentuk satu ikatan yang tak mungkin akan putus hingga ke hari pengadilan.
Demi sesungguhNya, tak pernah sekali terniat di dalam hati untuk menyakiti apatah lagi melukakan, namun kadangkala emosi menguasai diri. Kisah hidup yang mematangkan bagi yang cuba memahami dalam kelangsungan peredaran masa tetapi tidak dapat mengajar satu nilai yang cuba diterapkan ekoran dari sifat rakus yang tertanam sekian lama. Dikecewakan memang agak menyedihkan bila lagi sering dikecewakan dan terus terasa kecewa. Bangun dan berdiri sambil melangkah setelah jatuh bagi aku memerlukan tongkat untuk menompang meneruskan perjalanan.
Bayangkan dari tempat yang tinggi.. melepaskan semua yang pernah dinikmati bagaikan sang Kelembai dengan hanya menyentuh terjadi dan ter ada sekelip mata tetapi sengaja dilepaskan demi sebuah pendirian yang tak mungkin di mengerti oleh mereka yang tak memahami. Hidup dalam keadaan kebiasaan melihat bayang didalam cermin merencanakan dunia seperti apa yang diangankan tercapai seperti yang dicitakan walaupun datangnya sengat – sengat bisa yang menghentikan nadi seketika dalam menempuh perjalanan seolah sedang menghadapi perang jiwa yang berkecamuk.
Kemewahan itu zahirnya, batinnya luluh bagai lilin, bila ada semua merasa , bila tiada tak pula membenci. Memang benar bagai dikata rezeki jangan ditolak, berbicara mengenai halal haram tanpa persefahaman aliran yang satu memberi tanpa dipinta tapi bertanya berkatnya sedangkan yang didalam sendiri kalau dikorek dan diratah belum tentu tahu usul asalnya.. periksa usulnya ketahui asalnya barulah fahami hakikatnya.
Kala hati yang terluka berbicara, segunung tangan menampan belum tentu cukup untuk menawarkan hanya kembali pada maha pencipta bersujud memohon agar jalan yang direncanakan tetap dan satu.
Filed Under: Personal













